Nova Sebut Tiga Pejabat Polri

Kompas.com - 29/12/2009, 11:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Novarina, istri terdakwa Wiliardi Wizar, mengungkapkan adanya dugaan rekayasa dalam penanganan perkara pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen, oleh pejabat Mabes Polri dan Polda Metro Jaya.

Hal itu diungkapkan Nova dalam sidang terdakwa Antasari di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (29/12/2009). Dia dihadirkan pihak Antasari sebagai saksi.

Dalam kesaksian di hadapan ketua majelis hakim Harri Swantoro, Nova menyebutkan tiga pejabat Polri. Nova menceritakan saat awal penangkapan suaminya di Polda. Saat itu, dia menemui suaminya setelah Wiliardi melakukan pertemuan dengan Wakabareskrim Mabes Polri, Irjen Hadiatmoko.

"Setelah pertemuan itu saya ketemu suami. Saya tanya ke suami, Wakabareskrim bicara apa. Suami saya jawab, Pak Wakabareskrim bilang, 'Tolong bantu pimpinan, kalau ada penyidik diikutin aja. Ngomong aja ada perintah (membunuh) dari Antasari. Tapi saya enggak mau melakukan dan saya suruh orang lain'," ucap Nova.

Setelah pertemuan itu, pada hari yang sama dia dan suaminya melakukan pertemuan dengan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iriawan.

"Di situ ada tiga penyidik lain. Pak Iwan bilang ke saya, 'Ini kan targetnya Antasari. Ya sudahlah nanti kita bantu'. Saat itu suami saya tanda tangani BAP (berita acara pemeriksaan)," ucap dia.

Nova lalu menceritakan pertemuan lain dengan Kabareskrim saat itu, Komjen Susno Duadji. Selain dirinya, ikut dalam pertemuan yaitu suaminya, Hadiatmoko, Iriawan, dan penyidik lain. Kepada Wiliardi, Susno mengatakan, "Ya sudah Dik (adik), kamu enggak dipecat. Gini loh Dik, yang penting kalau Antasari bebas kamu juga bebas. Kalau Antasari bebas jangan sampai kamu dihukum berat," jelas Nova menirukan perkataan Susno.

Saat berkas perkara hampir lengkap (P-21), ucap Nova, suaminya menceritakan kepadanya bahwa penyidik Polda meminta agar Wiliardi kembali ke BAP awal.

"Aku diminta supaya ada perintah itu (membunuh Nasrudin)," tutur Nova menirukan pengakuan Wiliardi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau